Buka Praktek PSK, Pelajar SMA Swasta Islam kota Bogor ditangkap Polisi
Polisi bekerjasama dengan beberapa murid berhasil menangkap pelaku
Sabtu(8/9) merupakan hari sial bagi dina, santi, mira, alea dan chika (bukan nama sebenarnya). Pasalnya, malam minggu yang mereka rencanakan akan berakhir indah dengan menikmati uang dari hasil menjajakan diri dengan para “esmud” eksekutif muda-red, pun pupus sudah. Kini, hanya isak tangis dan rasa malu yang terdengar dari sudut ruang kantor polisi Bogor timur. Mereka semua di gerebek di salah satu hotel berbintang dua di kota Bogor. Polisi menangkap karena adanya laporan pengaduan dari pihak sekolah, terkait adanya siswi pelajar SMA swasta tersebut yang kerap buka praktek sebagai PSK. Polisi lalu melakukan penyamaran sebagai pengguna jasa PSK. Setelah membuat janji via telepon, akhirnya disepakati untuk check-in di salah satu kamar hotel kelas melati di kota Bogor. Namun, setibanya di hotel mereka kaget. Polisi dan beberapa murid yang juga merupakan senior di sekolah mereka ternyata ada disana. Malang tak dapat dielak, mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa, pasrah menyerahkan diri. Dalam menjalankan aksinya, mereka masih menggunakan baju seragam SMA lengkap dengan tulisan nama sekolah. Hal ini yang membuat pihak sekolah menjadi geram. “Apa komentar orang bila pelajar yang buka praktek tersebut berasal dari sekolah ini?, bisa –bisa citra yang selama ini kami bangun hancur sudah” ujar salah satu guru SMA swasta Islam tersebut yang tidak mau disebutkan namanya. Pihak sekolah menyayangkan mereka yang terjerumus karena salah pergaulan. Akhirnya, kebijakan pun di ambil. Demi menjaga nama baik sekolah, keputusan bahwa mereka terpaksa mengundurkan diri dari naungan sekolah pun diambil. Dengan kata lain mereka keluar dari sekolah tersebut.
Awalnya hanya ikut-ikutan
Pertemanan kelima gadis ini bermula sejak awal tahun 2006 lalu, semenjak masih duduk di bangku kelas satu SMA. Karena merasa cocok, mereka pun sering menghabiskan waktu bersama. Mulanya, salah satu dari mereka berkenalan dengan Aca (bukan nama sebenarnya) yang terjun lebih awal dengan menjadi PSK. Lalu, dengan alasan sekedar iseng dan ingin tahu, mereka pun berguru pada Aca. Dina, salah seorang gadis yang mempunyai wajah manis berkata, “gue sih cuma pengen tau aja rasanya kayak gimana, eh keterusan.” Dara manis inipun mengisahkan bahwa ia berasal dari keluarga yang berkecukupan, namun broken home. “nyokap bokap cerai waktu gue masih SD. Gue jarang dapet perhatian nyokap, dia sibuk kerja. Mungkin having fun bareng temen-temen bisa jadi pengusir stress buat gue.” Imbuhnya. Cerita alea lain lagi. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Orang tuanya bercerai, namun belakangan ia mengetahui bahwa ibunya merupakan simpanan oom-oom. Hal ini jelas saja membuat dirinya shock. “Bisa jadi ini pelarian buat gue. Nyokap aja begitu, berarti gue juga boleh dong.” dalihnya seraya menuturkan. Rata-rata mereka tinggal di kost-kostan agar lebih bebas dan bisa keluar malam.
Wanita Karaoke
Mulanya mereka hanya sebatas menjadi wanita untuk menemani berkaraoke. Entah mengapa, bila si pria tertarik, ia akan mengajak wanita tersebut untuk jalan-jalan seharian lalu berlanjut dengan check-in di kamar hotel. Bisa jadi dengan alasan tantangan, mereka lebih memilih untuk melakukannya di dalam mobil. Semua tergantung kesepakatan dan harga. “Pemain-pemain baru” biasanya dihargai Rp. 400.000,00-Rp.500.000,00 untuk long time. Sementara mereka yang lebih senior, mematok harga Rp. 2.000.000,00 untuk short time. Mereka yang jam terbangnya lebih banyak umumnya tak sungkan untuk melebarkan sayap ke Jakarta. Dita berkata “ Tiap weekend, gue sama anak-anak clubbing di embassy, bross lounge, atau stadium.” Sementara bila di Bogor, biasanya sepulang sekolah mereka nongkrong di food court salah satu mal. Disana mereka bertemu dengan teman-teman sepermainan.Menurut pengakuan Dina, para pengguna jasa mereka berasal dari berbagai kalangan. Ada yang oom-oom, duda, eksekutif muda, dan paling kecil mahasiswa. Bahkan ada pula yang sudah menjadi pelanggan tetap. Dalam hai ini, biasanya mereka dibawa main hingga ke Jakarta. “Dulu, gue sempet ngasih gratis sama pacar. Soalnya kita sama-sama suka dan penasaran aja.” tandas alea. Diakuinya, dalam melakukan hubungan si pria selalu menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi. Ia pun selalu berjaga-jaga dengan membawa kondom di dalam tasnya. Penghasilan yang di dapat biasanya habis dipakai untuk membeli kebutuhan-kebutuhan yang dapat menunjang penampilan, seperti make-up, baju, atau ganti handphone.
Situasi di arena food court
Pengakuan para germo
Sebut saja Imel. Ia sempat kuliah di Malang,namun karena merasa tidak betah, ia pun kembali ke Bogor dan kuliah di Sekolah Tinggi Swasta di kota Bogor.. Dia enggan menyebut dirinya sebagai germo (GM) karena pekerjaan tersebut menurutnya dijalani dengan have fun. “Temen-temen gue banyak, diantaranya ada yang jablay ada pula teman yang bener, biasanya teman inilah yang tidak mengetahiu profesi gue sebenarnya.” ucap Imel. Ia pun mengaku salah bergaul dengan mereka. Karena merasa sudah tidak perawan, ia pun mencari lahan untuk mencari uang dengan menjadi GM. Diakuinya penghasilannya tidak seberapa di bandingkan dengan menjadi jablay. Umumnya mereka mendapat setengah dari harga yang sudah ditetapkan para pengguna jasa. Lain lagi cerita temannya yang bernama Ika. Wanita ini sudah lama berprofesi sebagai GM. Imel bercerita bahwa Ika kini sudah bisa membeli mobil Suzuki aerio dari hasil ia menjadi GM. Dalam melancarkan aksinya, Ika terbilang cukup berani karena ia menjual para perawan, namun pada kenyataannya mereka sudah tidak perawan lagi. Ika memberikan suatu ramuan jamu agar mereka terlihat seperti masih perawan.Tentunya dengan berharap mendapatkan bayaran yang lebih tinggi. “Ika tuh senior gue, kalo pesen lewat dia, bisa janjian di suatu tempat atau langsung delivery ke rumah client.” ujar Imel menuturkan.
Komentar Masyarakat
Menurut Yanti Wibowo, lulusan psikologi UGM yang kini membuka praktek di Rumah Sakit Azra Bogor berkata, “Ini merupakan gejala sosial yang harus diwaspadai. Dampak era globalisasi saat ini dapat membawa pengaruh buruk bagi mereka yang mudah terpengaruh dan terseret arus modernisasi. Kita sebagai masyarakat timur masih tabu akan sex bebas.” Ia pun menambahkan, “Kasih sayang dalam sebuah keluarga sangatlah penting. Oleh karena itu hendaknya para orangtua lebih memperhatikan pergaulan anak-anaknya.” Tike, ibu tiga anak yang salah satunya merupakan pelajar SMA di kota Bogor memberikan tanggapan mengenai kasus ini. “Kita sebagai orangtua, wajib mengarahkan dan membimbing anak-anak kita. Saya selalu menyediakan waktu untuk berkumpul bersama keluarga di malam hari untuk saling bertukar cerita. Saya dan suami berusaha terbuka dengan anak-anak dan merangkul mereka seperti kawan agar merasa lebih nyaman dan tidak ada yang perlu ditutupi.” tandasnya. Nadia, yang merupakakan pelajar SMA di kota Bogor angkat bicara, “Sekarang sih, pinter-pinter kita aja dalam memilih teman. Kita juga harus deket dengan keluarga, karena hanya mereka yang tau dan mau menerima kita apa adanya.” Ia pun menambahkan bahwa “hal-hal seperti itu hanyalah kesenangan sesaat. Sisanya rasa bersalah dan penyesalan yang menghantui diri kita.” Ujarnya seraya menutup wawancara kali ini.

perkenalkan nama saya herma
ReplyDeleteperkara yang saya alami dapat di lihat di
http://www.intimidasike1.blogspot.com
saya sangat butuh bantuan hukum dan bantuan pencarian bukti bukti,arsip arsip
dan saksi saksi atas kasus yang orang tua kami alami.
jika ada maka dapat menghubungi saya di
awanabdulherma@gmail.com
terima kasih atas perhatianya